Category Archives: Khotbah ‘Idul Fithri

Muqoddimah Khutbah Idul Fitri

Muqodimah Khutbah Idul Fitri Adha

Iklan

Manivestasi Ramadhan Menciptakan Masyarakat Madani

Manusia berada diantara Malaikat dan Hayawani, untuk itu  Shiyaam sebagai solusinya. Shiyaam berarti imsaak yaitu menahan diri atau mengekang dan mengatur diri. Salah satu Rahasia diwajibkan Shiyaam/Puasa adalah untuk menahan diri dari bergejolaknya nafsu, yaitu:

  1. Nafsu yang ada disekitar perut, artinya makan, minum (kisah Adam dengan buah yang dilarang dimakan/khuldi)
  2. Nafsu yang berasal dari bawah perut, artinya godaan syahwat (kisah Qobil yang membunuh adiknya)
  3. Nafsu yang berada di atas perut yaitu akal, mulut, mata, telinga (sekuler, liberalisme)

Sementara tujuan diwajibkan shiyaam dengan tegas mencakup:

  1. Taqwa, ﻟﻌﻠﻜﻢﺗﺘﻗﻮڼ

Untuk mencapai Taqwa itu diperlukan:

  1. Iman yang haqiqi
  2. Islam menunaikan rukun Iman secara konsisten dan memaknai ajarannya dengan istiqomah.
  3. Ihsan, berbuat baik bagi dirinya, Lingkungan, makhluk lainnya sebagai wujud kecintaannya kepada Allah SWT.
  4. Ikhlas, dimana hakikatnya bahwa kita adalah kasirnya Allah, semua milik Allah, sedangkan kita hanya sebagai pemakai sementara.

Imam Ghazali dalam kitabnya Mukasyaful Qalbi, merinci sifat taqwa akan membentuk manusia sebagai berikut :

  • Lidahnya tidak lagi dusta, fitnah, cela dan ghibah.
  • Hati tidak lagi dengki, hasad, mendendam, benci.
  • Mata selalu terpelihara dari memandang dari yang dilarang Allah.
  • Tangan/kekuasaan,semakin terjaga dari perbuatan maksiat, malah sebaliknya selalu berada diatas untuk membantu yang kurang mampu.
  • Kaki/fasilitasnya tidak melangka ketempat maksiat, tapi semakin rajin berjalan pada jalan-Nya Allah dan Rasulullah SAW.
  • Ketaatannya menunjukkan syukur yang meningkat sejalan dengan bertambahnya nikmat Allah padanya.
  1. Mendidik manusia bersyukur,  ﻟﻌﻠﻜﻢﺗﺸﻜﺮﻮڼ

Sangat banyak sekali nikmat yang telah Allah berikan pada kita, kita tidak mampu menghitungnya, tugas kita bersyukur. Hakikat syukur itu sadar datang dari Allah dan kita pun kembali pada Allah, apa yang ada pada diri kita semua milik Allah, jadi kita wajib mengelolanya sesuai dengan aturan Allah, bila kita kelola dengan aturan Allah nikmat itu ditambahi, tapi bila kita kelola tanpa aturan Allah atau melenceng dari Allah, maka tunggulah siksanya sangat dahsyat sekali, masihkan kurang berbagi bencana yang ada?

Imam Abu Laits Assamarqandi, dalam kitab Tanbihun Ghafilin (peringatan bagi orang-orang lalai) menuliskan di akhirat nanti Allah bertanya kepada manusia, kenapa tidak dekat dengan ajaran Allah, mereka menjawab:

  1. Sibuk karena jabatannya (Kisah Daud AS).
  2. Sibuk karena hartanya (Kisah Sulaeman AS).
  3. Sibuk karena sakitnya (Kisah Ayyub AS).
  4. Sibuk karena miskinnya (Kisah Isa AS).

Rasulullah SAW pernah didatangi Jibril, menyampaikan salam dari Allah SWT dan bertanya, manakah engkau yang sukanya Muhammad menjadi Nabi yang kaya seperti Nabi Sulaeman atau menjadi Nabi yang menderita seperti Nabi Ayyub AS, Nabi menjawab, aku lebih suka kenyang sehari dan lapar sehari, jika kenyang aku bersyukur, jika lapar aku bersabar atas cobaan Allah padaku.

Saudaraku, kebendaan membawa lupa dan bisa anti Tuhan, kerohanian membawa ingat dan cinta Tuhan. Kebendaan membawa fitnah dan pengkhianatan, kerohanian membawa keikhlasan dan kesyukuran. Kebendaan membawa permusuhan dan kebencian, kerohanian membawa perdamaian dan kecintaan. Kebendaanm membawa kezhloliman dan kecurangan, kerohanian membawa keadilan dan kejujuran. Kebendaan bersifat merusak dan meruntuhkan, sedangkan  kerohanian bersifat memperbaiki dan membangaun.

Kebendaan membawa kepincangan hidup dan kemiskinan, sebaliknya kerohanian membawa kehidupan merata dan kemakmuran. Ternyata kebendaan adalah nafsu, maka Ramadhan adalah penahan dan penawarnya.

  1. Mendidik agar kita semakin cerdas,  ﻟﻌﻠﻜﻢﻳرﺷﺪﻮڼ

Rasulullah SAW pernah bertanya pada sahabat, bagaimana sikap kalian nanti jika sekiranya telah terbukanya pembendaharaan Roma Parsi, sahabat menjawab, bahwa mereka akan tetap memegang agama yang asli, Rasul tersenyum kecut, sambil bersabda bahwa pada waktu itu kamu akan berkelahi sesamamu, berpecah belah, setengah yang lain memusuhi yang lain, padahal jumlah ummat islam itu banyak sekali, tapi nasibnya seperti buih di tengah lautan, lemah kamu akan hancur laksana hancurnya kayu dimakan anai-anai.

Sahabat bertanya, apa penyebabnya ya Rasulullah, jawab Rasul, karena ketika itu hatimu telah terpaut pada dunia (kebendaan), dan kamu takut menghadapi maut/jihad dan perjuangan.

ﷲ اﻛﺒﺮ ﻮﻟﻟﻪ اﻟﺤﻣﺪ

Hari ini disebut dengan idul fitri bermakna hari bersih dan berputih hati, hari yang penuh nikmat untuk disyukuri. Lewat tahmid dan tasbih, suasana khusyu’. Haru bercampur sedih. Khusyu’ disebabkan pengakuan diri bahwa Allah lah yang Maha Besar, Maha Agung dengan kekuasaannya, manusia kerdil  bila dibanding dengan kebesaran-Nya. Tahmid karena segala puja dan puji dikembalikan kepada-Nya. Tiada yang pantas dipuji selain DzatNya. Tasbih sebagai wujud pengakuan bahwa Allah Maha Suci, semua makhluk di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya, Tahlil dan Taqdis adalah ungkapan keesaan dan kesucianNya. Allah Maha Esa dengan segala kesucian-Nya. Semua ini keluar dari lubuk hati yang dalam, bagi setiap hamba yang beriman, setelah memenuhi segala suruhan dan menjauhi apa yang dilarang.

ﷲ اﻛﺒﺮ ﻮﻟﻟﻪ اﻟﺤﻣﺪ

Perasaan harupun menyelimuti setiap mukmin sebagai wujud syukur, bahwa jati dirinya menjadi seorang muttaqin, hatinya qolbun salim dan haqqul yaqin. Hari ini para shoimin dan shoimat telah menang, hati bahagia dan perasaan pun senang, muncullah semangat baru yang dilandasi jiwa yang tenang, karena telah menang dalam menyelesaikan perjuangan dan tantangan.

Sebulan penuh kita berpuasa, tidak makan, minum, dan sesuatu yang membatalkan di siang hari, malamnya tarawih dan tadarus Al-Qurán, sebagai bukti taqarrub kepada Allah yang Maha Rahman. Perilaku tersebut dapat melahirkan watak dan jiwa yang tenang, hati yang bersih, sebagaimana janjinya disiapkan syurga yang terbentang:

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah ke pangkuan Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya, masuklah ke dalam jamaáh hamba-hambaku, dan masuklah ke dalam syurgaKu”

ﷲ اﻛﺒﺮ ﻮﻟﻟﻪ اﻟﺤﻣﺪ

Suasana sedih larut menjadi satu, sebab belum tentu Ramdhan mendatang dapat bertemu, sebab ajal bisa  datang sewaktu-waktu:

“Apabila datang batas ajal, tidak sedikitpun mundur atau dikemudiankan”.

Pantaslah hari ini kita mengucapkan selamat jalan wahai Ramadhan, engkau datang membawa nikmat, syukur dan keberkahan serta keampunan, selamat berjumpa di tahun depan, semoga Allah memperkenankan, ya Rabb pertemukanlah kami kembali tahun depan.

Aidin waláidat rahimakumullah !

Banyak mereka yang telah pergi tak kembali lagi, saudara, kerabat, jiran tetangga dan sanak famili, ada suami duluan pergi, ada pula istri yang mendahului. Ada anak kehilangan ayah, atau ayah kehilangan anak, muncullah anak-anak yatim baru. Itulah kehidupan yang lahir tetap lahir, yang meninggal silih berganti.

Musibah bencana silih berganti, cobaan tidak pernah berhenti, semuanya membuat kita wajib mengoreksi diri : “inilah peringatan Allah atau sudah bala bencana-Nya, seluruhnya meninggalkan kesan pilu dan haru“.

Aidin waláidat rahimakumullah !

Puncak dari Idul Fithri ini, kita saling bermaáf-maáfa, anak bersimpuh meminta maaf kepada kedua orang tuanya, suami – isteri, adik dengan kakak, yang muda dengan yang tua saling memaafkan, begitu juga jiran sesama jiran tetangga. Intinya hari-hari ini adalah hari silaturrahmi, rasa benci dan dendam dibuang, diganti dengan ramah-tamah, pintu rumah dibuka lebar menerima tamu untuk saling bersilaturrahmi, berjabat tangan dengan keikhlasan. Semua ini tak pandang siapa, baik yang puasa maupun yang        tak puasa, pasti hatinya merasa bahagia, malah sebaliknya yang tak berpuasa biasanya lebih sibuk dari yang berpuasa.

Hadirin ingatlah, kalau di awal Ramadhan semua syaitan dibelenggu, kini mereka merdeka dan telah bebas, segala godaan di bulan Ramadhan telah mampu kita tantang, sedang saat Idul Fithri ini masih bisakah bertahan?, terpulanglah pada nilai Iman dan Taqwa, apalagi jika kita sudah kembali ke puncak kecintaan dunia, akibatnya lupa diri, lupa syukur dan lupa ukhrawi.

Kaum Muslimin

Indonesia adalah negara yang paling banyak jumlah penduduk muslimnya, mengalahkan 5 negara Islam di Timur Tengah, namun dengan jumlah ini kita punya tantangan ke depan antara lain:

–     Miskin Iman

–     Miskin Ilmu

–     Miskin Ekonomi

–     Miskin Persatuan

ﷲ اﻛﺒﺮ ﻮﻟﻟﻪ اﻟﺤﻣﺪ

Sejarah telah membuktikan, bahwa bangsa yang tidak menjadikan agama sebagai landasan hidupnya akan hancur dan terbelakang. Turki adalah negara Islam yang pernah cemerlang selama enam abad di muka bumi sewaktu mereka menjadikan iman Isalmi sebagai landasan hidup, tetapi karena terkicuh oleh boneka sculer Mustafa Kamal  yang dengan brutal dan beringas menindas Islam, maka Turki menjadi hancur dimata kawan dan lawan.

Universitas dan Masjid Al Hamra di Andalusia Spanyol kini tinggal kerangka dan sejarah saja, sebab para intelektualnya meninggalkan ajaran Islam yang berakibat pada hilangnya pusat ilmu budaya Islam yang antara lain dibakar buku-buku pengetahuan hasil karya intelektual Islam dan dihanyutkan ke sungai bersama hilangnya nila-nilai jihad umat Islam.

Umar bin Khattab pernah menjadikan menantu seorang gadis desa yang yatim karena pendidikan iman, setelah Umar mendengar dialog antara si gadis dengan ibunya di suatu malam. Si Ibu berpesan agar anaknya membubuhkan air ke dalam tong usus yang akan mereka jual besoknya ke pasar dengan harapan hasil yang lumayan. SI gadis mengingatkan ibunya bahwa Khalifah Umar akan marah bila mengetahui hal yang demikian. Tetapi si ibu mengatakan bahwa Khalifah tidak mengetahuinya, tetapi si gadis mengatakan kepada ibunya: walaupun Khalifah tidak mengetahui, tetapi Allah mengetahuinya.

ﷲ اﻛﺒﺮ ﷲ اﻛﺒﺮ ﷲ اﻛﺒﺮ ﻮﻟﻟﻪ اﻟﺤﻣﺪ

Saudaraku,

Meningkatkan sumber daya insani adalah upaya mengejar ketinggalan dan keterbelakangan melakukan peningkatan iman, ilmu dan keterampilan. Ilmu tanpa iman akan membuat orang menjadi iblis yang sombong dan angkuh bahkan perusak manusia sepanjang zaman.

Iman tanpa ilmu akan membuat seseorang bagaikan malaikat monoton yang membosankan. Ilmu dan imanlah yang menyebabkan Adam diangkat menjadi Khalifah bumi, karena menyisihkan saingannya yang ambisi dari golongan iblis dan malaikat.

Seorang yang beriman, berilmu dan terampil akan menjadi manusia yang terhormat dan disegani, bagaikan masyarakat lebah mampu menghasilkan madu untuk obat dan minuman. Mereka punya senjata tapi tidak pernah mengganggu, mereka dapat dijadikan sahabat yang saling membantu, mereka tidak pernah merusak walau ranting dan dahan kayu. Lebah sangat terampil, lebah sangat pembersih, lebah sangat tertib dan tahu diri, lebah juga menghormati pemimpin dan yang dipimpin. (Q.S An-Nahl:68).

ﷲ اﻛﺒﺮ ﻮﻟﻟﻪ اﻟﺤﻣﺪ

Kaum Muslimin Yth.

Untuk menghadapi berbagai tantangan dalam Menciptakan Masyarakat Madani ialah:

  1. Kemenangan Ramadhan semangat Idul Fithri kita jadikan titik tolak untuk bersatu dalam perbedaan antara ulama, penguasa, orang kaya dan fuqara. Sebab nabi pernah bersabda :

        Artinya: “Tegaknya dunia karena empat perkara: 1. dengan ilmu ulama, 2. dengan keadilan penguasa, 3. dengan kemurahan di kaya, 4. dengan doa fuqara”.

  1. Umat Islam harus memberikan anak-anaknya pendidikan iman dan  keterampilan, memberi contoh-contoh teladan yang baik dan benar, para pejabat dan penguasa harus berani mempergunakan kesempatan untuk menampilkan wajah dan akhlak Islam, membela kepentingan umat, para ulama harus berani menyampaikan yang benar itu benar dan yang bathil itu salah. Aparat keamanan harus berani menindak kejahilan dengan tegas dengan niat jihad agar diimbali Allah dengan syurga.
  2. Orang kaya harus sadar bahwa harta yang telah cukup nisabnya ada hak fakir miskin sebagai zakat yabg harus dia serahkan. Cukup banyak anak terlantar yang putus sekolah, anak yatim yang tidak mampu tapi punya kecerdasan dan cita-cita mulia mengharapkan uluran tangan para dermawan yang beriman.

Tidak semua tetesan air mata sebagai tanda kecewa, tapi banyak juga sebagai tanda syukur dan doa. Syukur dan doa diiringi air mata, selalu mendapat perintah Allah untuk dikabulkan-Nya. Kita tempa generasi muda kita sebagai generasi yang berani karena iman, mampu berperan dan tampil ke depan. Kita hayati motivasi Allah dalam firman-Nya pada surat Ali Imran ayat 139:

        Artinya: “Janganlah kalian bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling tinggi (derajat) jika kamu orang beriman.”

  1. Ketahuilah saudaraku, sumber kehancuran umat itu ada 5 antara lain:

a. Berkhianat pada janji akan kehilangan cahaya hidup.

b. Melanggar hukum Allah akan datang kekeringan.

  1. Perzinahan merajalela muncul penyakit berbahaya.

d. Mengurangi takaran dan timbangan akan menghilangkan keberkahan.

e. Enggan berzakat, Allah akan mencabut nikmat dari sisi-sisi yang tidak              terduga.

5.    Menanamkan dan mendisiplinkan agama dalam keluarga sebagai dasar penanaman Aqidah tauhid, percayalah hanya dengan agamalah hidup ini mencapai kebahagiaan.

6.    Kepada remaja dan pemuda Islam, jagalah pergaulan dan bergaullah sesama umat tauhid, Insya Allah akan jadilah kamu umat yang bertauhid.

7.    Makanan dan sumber mencari penghidupan, marilah kita upayakan supaya       benar-benar halal, bukan dari sumber yang subhat, apalagi yang jelas haram. Sebab jika kamu makan yang haram maka akan lapuklah imannya, dan matilah hatinya dari mengingat Allah.

8.   Kita biasakan mendidik diri kita dengan sikap dan ibadah-ibadah yang islami, bericara dengan perkataan-perkataan iman, berjalan dengan langkah-langkah Islam dan berbudaya dengan budaya ihsan, kita rindukan ajaran-ajaran Rasul.

9.    Hidupkan semangat jihad dan suka berkorban untuk membela agama Allah, sehingga:

*     Ada yang membela dengan jabatannya.

*     Ada yang membela dengan hartanya.

*     Ada yang membela dengan ilmunya.

*     Ada yang membela dengan tenaganya.

10.  Hilangkan pola materialis dan sikap hidup konsumtif. Marilah kita robah menjadi produktif yang bermanfaat bagi banyak orang.  “Wahai generasi muslim pelanjut umat tauhid, obatilah jiwamu dengan jamu iman, berbusanalah dengan busana ibadah, berparfumlah dengnan akhlakul karimah, berhiaslah dengan ilmu dan malu, melangkahlah dengan semangat tekad hanya karena mencari ridho Allah.”

Khotbah di Masjid Jami’ Baitul Akbar
Oleh: Drs. H. Masyhuril Khamis, SH
(Anggota MUI Pusat Bidang Pemberdayaan Umat)

——– oo0oo ——–

Ibadah Puasa Ramadhan Meningkatkan Kualitas Umat Islam Sebagai Ummat Terbaik


ﺍﷲ ﺍﻜﺑﺮ ﻮﷲ ﺍﻠﺤﻤﺪﺍﷲ ﺍﻜﺑﺮ ﺍﷲ ﺍﻜﺑﺮ

 

  1. 1.    Idul Fitri Sebagai Hari Kemenangan

 Puji dan syukur kita sampaikan ke hadirat Allah SWT atas rahmat-Nya pada pagi hari ini kita dapat merayakan Idul Fitri, sebagai hari kemenangan bagi orang-orang yang beriman, setelah satu bulan penuh berjuang mengendalikan hawa nafsu melalui ibadah puasa Ramadhan. Semoga hari kemenangan ini dapat memberikan motivasi  bagi peningkatan kualitas diri dan kehidupan kaum muslimin-muslimat sebagaimana pesan Rasulullah SAW :

ﻤﻦ ﻜﺎﻦ ﻴﻮﻤﻪ ﺨﻴﺮﺍ ﻤﻦ ﺍﻤﺴﻪ ﻔﻬﻭﺮﺍﺑﺢ   – ﺮﻭﺍﻩ ﺍﺤﻤﺪ-

“Barang siapa yang keberadaannya hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia adalah orang yang beruntung”

Dengan kata lain, barang siapa yang selesai mengerjakan ibadah puasa Ramadhan, imannya meningkat lebih baik, ibadahnya lebih baik, perbuatannya meningkat lebih baik, dan akhlaknya meningkat lebih baik maka dialah orang yang beruntung, karena dia telah sukses meraih tujuan ibadah puasa menjadi orang yang bertaqwa,   sebagaimana Firman Allah SWT :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Q.S. Al-Baqarah : 183)

Mudah-mudahan kita semua termasuk orang-orang yang beruntung dan sukses dalam meningkatkan kualitas taqwa setelah melaksanakan ibadah puasa, karena orang bertaqwa adalah yang paling mulia kedudukannya di sisi Allah SWT, sebagaimana Firman Allah SWT :

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang palingtaqwa diantara kamu” (Q.S. Al-Hujurat : 13)

Orang bertaqwa akan menempati syurga yang penuh kenikmatan disisi Allah SWT, sebagaimana Firman Allah SWT :

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertaqwa (disediakan) syurga-syurga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.” (Q.S. Al-Qalam : 34)

 Sikap hidup taqwa selain akan meningkatkan derajat dan martabat kaum muslimin-muslimat pada kedudukan yang mulia dan menempatkannya dalam syurga yang berbahagia, juga akan membawa kepada kehidupan dunia yang maju, selamat dan sejahtera baik pribadi dan keluarga maupun masyarakat, bangsa dan negara, sebagaimana Firman Allah SWT :

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”(Q.S. At-Thalaq : 2)

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”                   (Q.S. At-Thalaq : 4)

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Allah akan melimpahkan kepada mereka berkah (kebaikan) dari langit dan bumi (untuk kesejahteraan penduduk negeri-negeri itu)”(Q.S. Al-A’raf : 96)

 Mudah-mudahan di bawah Pimpinan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Bapak SBY dan Bapak Boediono dengan kepemimpinan yang berbasis taqwa, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia akan lebih maju, lebih sejahtera dan damai, menuju baldatun thayyibatun warabbun ghafur.

 

ﺍﷲ ﺍﻜﺑﺮ ﻮﷲ ﺍﻠﺤﻤﺪﺍﷲ ﺍﻜﺑﺮ ﺍﷲ ﺍﻜﺑﺮ

 2.    Keagungan bulan suci Ramadhan meneguhkan jati diri kaum muslimin

Kehadiran bulan suci Ramadhan setiap tahun adalah merupakan salah satu wujud dari kasih sayang Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, kaum muslimin-muslimat. Karena pada bulan suci Ramadhan Allah SWT berkenan melimpahkan rahmat dan barakah yang berlipat-lipat ganda, berkenan mengampuni segala kesalahan dan dosa, berkenan menerima dan mengabulkan semua do’a. Bahkan Allah SWT berkenan memberikan hadiah istimewa yaitu Lailatul Qadar (malam penuh kemuliaan), Khoirun  Min Alfi Syahrin (malam yang lebih baik dari 1.000 bulan). Artinya barang siapa yang beribadah pada malam Qadar itu maka ganjaran pahalanya lebih baik dan lebih banyak dari ganjaran pahala ibadah selama seribu bulan secara terus menerus. Itulah keagungan bulan suci Ramadhan. Hal tersebut mengandung makna bahwa melalui bulan suci Ramadhan dapat memperteguh jati diri umat Islam yang telah ditetapkan Allah SWT sebagai khaira ummah (umat terbaik), sebagaimana firman Allah SWT :

Kamu (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Q.S. Al-Imran : 110)

Firman Allah tersebut sekaligus menjawab tudingan berbagai pihak bahwa umat Islam adalah teroris, sebagaimana yang dipropagandakan oleh Amerika sejak terjadinya peristiwa peledakan gedung kembar WTC di Amerika pada tanggal 11 September 2001. Demikian juga dengan terjadinya peledakan bom bunuh diri di berbagai tempat termasuk di Indonesia, maka banyak pihak menuding bahwa umat Islam adalah teroris. Hal ini jelas tidak benar, karena Allah SWT telah menetapkan jati diri umat Islam sebagai khaira ummah (umat terbaik), pelopor berbuat kebaikan dan teladan mencegah kemungkaran. Oleh karena itu para ulama’ termasuk Majelis Ulama’ Indonesia telah menegaskan bahwa Islam mengharamkan dan mengutuk terorisme dan pelaku bom bunuh diri.

Dalam hubungan tersebut Allah SWT telah mengisyaratkan dalam firman-Nya bahwa, umat Islam harus dapat hidup berdampingan secara rukun dan damai serta bekerjasama dengan semua suku bangsa dengan tidak memandang perbedaan agama, sebagaimana firman Allah SWT :

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.”(Q.S. Al-Hujurat : 13)

Apabila umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia dan umat Islam terbesar di dunia, dapat membina dan menjaga kerukunan terhadap seluruh umat beragama dan bekerjasama dengan seluruh anak bangsa dan berbagai suku bangsa, serta taat pada pemerintah, maka masyarakat, bangsa dan negara Indonesia akan maju, sejahtera, aman damai, dan umat Islam sebagai penduduk mayoritas dengan sendirinya akan maju dan jaya. Itulah makna dari Islam sebagai Rahmatal Lil ‘Alamin, sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah SWT :

“Tidaklah Kami utus engkau (Muhammad SAW) (dengan membawa agama Islam itu) melainkan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta”. (Q.S. Al-Anbiya’ : 107)

ﺍﷲ ﺍﻜﺑﺮ ﻮﷲ ﺍﻠﺤﻤﺪﺍﷲ ﺍﻜﺑﺮ ﺍﷲ ﺍﻜﺑﺮ

 3.    Ibadah Puasa meningkatkan kualitas umat Islam

Ibadah puasa Ramadhan selain salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh kaum muslimin-muslimat dengan nilai ganjaran pahala yang sangat istimewa dan tiada terhingga di sisi Allah SWT, juga memberikan pelatihan secara intensif dan efektif untuk meningkatkan kualitas umat Islam sebagai umat terbaik (Khairal ummah) yang meliputi dua aspek pokok :

  1. Pelatihan mengendalikan hawa nafsu, baik nafsu perut maupun nafsu syahwat, sehingga dapat melahirkan sikap dan perbuatan yang terpuji yang akan membawa kepada kemaslahatan bagi diri pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Keterpurukan suatu masyarakat, bangsa dan negara, sebagai akibat dari hawa nafsu yang tidak terkendali dari warga masyarakat, bangsa dan negara itu, sehingga menimbulkan sikap dan perbuatan yang tercela yang menyebabkan berkembangnya berbagai bentuk kebatilan, kezaliman, kemunkaran dan kemaksiatan dalam masyarakat. Allah SWT berfirman :

 “Maka telah diilhamkan pada jiwa manusia kecenderungan kepada yang buruk dan kecenderungan kepada yang baik (taqwa), maka sungguh beruntung mereka yang membersihkan jiwanya (dengan mengendalikan hawa nafsu) dan akan merugilah mereka yang mengotori jiwanya (dengan memperturutkan hawa nafsu). (Q.S. As- Syams: 8 – 10)

  1. Pelatihan peningkatan kesholehan ritual atau pendekatan diri kepada Allah SWT, dan kesholehan sosial atau berbuat kebaikan terhadap sesama manusia dan makhluk lainnya. Terpadunya kesholehan ritual dan kesholehan sosial akan membawa kesuksesan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara . Allah SWT berfirman:

 “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Q.S. Al-Hajj : 77)

ﺍﷲ ﺍﻜﺑﺮ ﻮﷲ ﺍﻠﺤﻤﺪﺍﷲ ﺍﻜﺑﺮ ﺍﷲ ﺍﻜﺑﺮ

  1. 4.    Idul Fitri sebagai momentum memperkokoh persaudaraan,  persatuan dan kesatuan

 Bulan suci Ramadhan dan ibadah puasa yang baru saja kita lalui telah memberikan motivasi yang kuat kepada kaum muslimin-muslimat untuk meningkatkan rasa persaudaraan, persatuan dan kesatuan, kebersamaan dan kasih sayang baik antara sesama muslimin-muslimat maupun dengan seluruh warga masyarakat dengan melakukan silaturrahim dan saling memaafkan kesalahan. Hal ini merupakan salah satu wujud dari sikap taqwa yang menjadi tujuan dari ibadah puasa, sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 134 :

Firman Allah tersebut mengisyaratkan bahwa salah satu ciri dari orang bertaqwa adalah orang yang berjiwa besar mau memberi dan meminta maaf atas segala kesalahan secara tulus.

Oleh karena itu  marilah kita jadikan Idul Fitri ini sebagai momentum membentangkan tikar perdamaian, mengakhiri segala dendam sengketa, memperkokoh persaudaraan, memperkuat persatuan dan kesatuan, menggalang kebersamaan dan kasih sayang, mengembangkan silaturrahim dan saling memohon dan memberi maaf atas segala kesalahan serta saling mendo’akan akan keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan.

ﻤﻦﺍﻠﻌﺎﺋﺪﻴﻦﻭﺍﻠﻔﺎﺋﺰﻴﻦﺘﻘﺑﻞﺍﷲ ﻤﻨﺎﻭﻤﻨﻜﻢ ﺘﻘﺑﻞ ﻴﺎﻜﺮﻴﻢ

(selamat meraih kemenangan semoga Allah menerima ibadah kita)

Marilah kita bersama-sama memanjatkan do’a kehadirat Allah SWT :

ﺒﺴﻢﺍﷲﺍﻠﺮﺤﻤﻦﺍﻠﺮﺤﻴﻢﺍﻠﺤﻤﺪﷲﺮﺐﺍﻠﻌﺎﻠﻤﻴﻦﺍﻠﻠﻬﻢﺻﻞﻋﻠﻰ ﺴﻴﺪﻨﺎﻤﺤﻤﺪﻮﻋﻠﻲﺍﻠﻪﻮﺻﺤﺑﻪﺍﺠﻤﻌﻴﻦ

Ya Allah,.. Tuhan Yang Maha Agung, Puji dan syukur kami sampaikan kehadiratMu atas kesempatan bertemu dengan bulan suci Ramadhan dan melaksanakan ibadah puasa. Kiranya engkau berkenan menerima ibadah puasa dan Amaliah Ramadhan kami  dengan penuh ridhoMu.

Ya Allah…Yang Maha Pemberi petunjuk dan pertolongan, bimbinglah kami dengan petunjuk dan pertolonganMu agar dapat mengamalkan sikap hidup taqwa setelah melaksanakan ibadah puasa, yang ditandai dengan Iman yang kuat, ibadah yang taat, amal yang shaleh dan Akhlak yang mulia.

Ya Allah…. yang Maha Pelindung, lindungilah masyarakat, bangsa dan Negara kami dari segala bencana, sehingga senantiasa dalam keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian di bawah Naungan rahmatMu.

Ya Allah Yang Maha Pegampun, ampunlah segala dosa dan kesalahan kami, dosa dan kesalahan kedua orang tua kami, dosa dan kesalahan seluruh kaum muslimin muslimat baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Terimalah Ya Allah semua amal ibadah kami, perkenankanlah Ya Allah doa permohonan kami, kiranya engkau berkenan Ya Allah memberikan umur yang panjang dan kesehatan lahir batin, sehingga kami dapat berjumpa lagi bulan suci Ramadhan yang akan datang, hanya kepadaMu jua  Ya Allah kami berserah diri, Amin Ya Rabbal ’Alamin.

ﺮﺑﻨﺎﺍﺘﻨﺎﻔﻰﺍﻠﺪﻨﻴﺎﺤﺴﻨﺔﻮﻔﻰﺍﻵﺨﺭﺓﺤﺴﻨﺔﻮﻘﻨﺎﻋﺫﺍﺐ

ﺍﻠﻨﺎﺮﻮﺍﻠﺤﻤﺪﷲﺮﺐﺍﻠﻌﺎﻠﻤﻴﻦ

 
 
 
 
 
Khotbah di Masjid Jami’ Baitul Akbar tahun 2009
 
Drs. H. Maulana Aziz
Dosen Universitas Islam Negeri (UIN)
 Syarif Hidayatullah Jakarta
Sekretaris Umum Lembaga Pendidikan Ilmu
Al-Qur’an (LPIQ)  Nasional