Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW

Shalahuddin Al Ayyubi

Memasuki bulan Rabiul Awal, saat dirayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, sejurus kitapun teringat  akan sosok tokoh yang diyakini menjadi penggagas peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yakni Sultan Shalahudin Al Ayyubi atau tepatnya Shalahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub. Salah Din ibnu Ayyub atau Saladin/Salahadin (menurut lafal orang barat) adalah  salah satu pahlawan besar dalam tharikh Islam. Satu konsep dan budaya dari pahlawan perang ini adalah perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang kita kenal dengan sebutan Maulud atau Maulid. Perayaan Maulid yang dilakukan oleh Shalahuddin bertujuan membangkitkan semangat ummat Islam untuk kembali berjihad dalam membela Islam pada masa Perang Salib Shalahudin Al Ayyubi  dilahirkan pada tahun 532 H/1138 M di Tikrit, Wilayah Kurdi di utara Irak.

Pada usia 14 tahun, Shalahuddin ke Damaskus menjadi tentara Sultan Nuruddin, penguasa Suriah waktu itu. Shalahuddin Al Ayyubi juga dikenal Macan Perang Salib Karena pemberani, pangkatnya naik setelah tentara Zangi yang dipimin oleh pamannya sendiri, Shirkuh, berhasil memukul mundur Pasukan Salib dari perbatasan Mesir. Pada tahun 1169, Shalahuddin diangkat menjadi Panglima dan Gubernur (Wazir) Mesir menggantikan pamannya yang wafat. Setelah berhasil mengadakan pemulihan dan penataan kembali sistem per-ekonomian dan pertahanan Mesir, Shalahuddin mulai menyusun strateginya untuk membebaskan Baitul Maqdis dari cengkeraman tentara Salib.

Shalahuddin terkenal sebagai penguasa yang mnunaikan kebenaran, bahkan memberantas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Pada September 1174, Shalahuddin menekan penguasa Dinasti Fatimiyyah supaya tunduk dan patuh pada Khalifah Daulah Abbasiyyah di Baghdad. Belum cukup sampai disitu, tiga tahun kemudian, sesudah kematian Sultan Nuruddin, Shalahuddin melbarkan sayap kekuasaannya ke Suriah  dan utara Mesopotamia. Satu per satu wilayah penting berhasil dikuasainya. Damaskus (tahun 1174), Aleppo atau Halb (1138)  dan Mosul (1186)

Perang Salib. Sebagaimana diketahui, berkat perjanjian yang ditandatangani oleh Khalifah Umar bin Khattab dan Uskup Sophronius menyusul jatuhnya Antioch, Damaskus dan Yerussalem pada tahun 636 M, orang-orang Islam, Yahudi dan Nasrani hidup rukun dan damai di Suriah  dan palestina. Mereka bebas dan aman menjalankan ajaran agama masing-masing di kota suci tersebut.

Namun kerukunan yang telah berlangsung selama lebih 400 tahun itu kemudian porak poranda akibat berbagai hasutan dan fitnah yang digembar  gemborkan  oleh seorang bernama Ermite. Profokator ini berhasil  mengobarkan semangat Paus Urbanus yang lantas mengirim ratusan ribu orang ke Yerussalem untuk Perang Salib Pertama. Ratusan ribu orang Islam terbunuh.

Menyadari betapa pentingnya kedudukan Baitul Maqdis bagi umat Islam, maka pada tahun 1187 Shalahuddin memimpin serangan ke Yerussalem. Orang Kristen mencatatnya sebagai Perang Salib Kedua. Pasukan Shalahuddin berhasil mengalahkan tentara Kristen dalam sebuah pertempuran sengit di Hittin, Galilee pada 4 Juli 1187. Dua bulan kemudian (Oktober tahun yang sama), Baitul Maqdis berhasil berhasil direbut kembali.

Pada 1189 tentara Kristen melancarkan seranan balik (Perang Salib Ketiga), dipimpin langsung oleh Kaisar Jerman  Frederick  Barbarossa, Raja Prancis Philip Augustus dan Raja Inggris Richard “the Lion ”. Peran berlangsung cukup lama. Baitul Maqis berhasil dipertahankan dan gencatan senjata akhirnya disepakati oleh kedua belah pihak. Pada tahun 1192  Shalahuddin dan Raja Richard menandatangani perjanjian damai yang isinya membagi wilayah Palestina menjadi dua : daerah pesisir Laut Tengah bagi orang Kristen, sedangkan daerah perkotaan untuk orang Islam, namun demikian kedua belah pihak boleh berkunjung ke daerah lain damaskus, Shalahuddin tidak memiliki harta benda yang berarti. Kontribusinya buat Islam sungguh  tidak pernah bisa di ukur dengan apapun di dunia ini.

Ksatria Berhati Mulia.

Kendati berposisi sebagai Sultan atau  Raja, Al Ayyubi dikenal dengan Kata Bijaknya dan sebagai pemimmpin yang zuhud. Kezuhudan Shalahuddin teertuang dalam ucapannya yang selalu dikenang; “Ada orang yang baginya uang dan debu sama saja”. Ini kalimat mahal yang membuat yang memei makna tenang sebuah kebenaran. Mencoba menerjemahkan kalimat sang Sultan, bahwa debu adalah sebaai kotoran  atau sampah yang  nyaris tiada beguna. Semua sampah atau barang tidak berguna biasanya orang  akan  menghindari atau membersihkannya. Hanya hal yang bersifat bersih sajalah mestinya manusia menyukainya.

Dikisahkan, Shlahuddin Al Ayyubi dulu menerapkan waktu berjumpa dengan rakyatnya. Ia menetapkan hari Senin dan Selasa sebagai waktu tatap muka dan menerima siapa saja yang memerlukan batuannya. Ia tidak nepotis atau pilih kasih. Siapa yang datang padanya diterima dengan baik.

Banyak kisah-kisah unik dan menarik  seputar Shalahuddin Al Ayyubi yang layak dijadikan teladan, terutama sikap ksatria dan kemuliaan hatinya. Di tengah suasana perang, ia berkali-kali mengirimkan  es dan buah-buahan unu Raja Richard yang saat itu jatuh sakit. Ia juga mengirim dokter untuk mengobati raja yang menjadi musuhnya itu.

Ketika menaklukan Kairo, ia tidak serta merta menggusir keluarga Dinasti Fatimiyyah dari istana-istana mereka. Ia menunggu sampai raja mereka wafat, baru kemudian anggota keluarganya diantar ke tempat pengasingan mereka. Gerbang kota tempat benteng istana dibuka untuk umum. Rakyat dibolhkan tinggal di kawasan yang dahunya khusus untuk para bangsawan Bani Fatimiyyah. Di Kairo, ia bukan hanya membangun masjid  dan benteng, tapi juga sekolah, rumah sakit dan bahkan Gereja.

Shalahuddin juga dikenal  orang yang saleh dan wara’. Ia tidak pernah meninggalkan sholat fardhu dan gemar sholat berjamaah. Bahkan ketika sakit keras pun ia tetap berpuasa, walaupun dokter menasehatinya supaya berbuka. “Aku tidak tahu bila ajal akan menemuiku” katanya. Shalahuddin sangat  amat dekat dan sangat dicintai oleh rakyatnya. Selayaknya, ia menjadi teladan bagi kita semua dan para pemimpin di Indonesia.

Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW

Kendatipun peringatan Malid Nabi Muhammad SAW bukanlah merupakan pekerjaan ibadah, namun unuk keperluan dakwah dan syiar Islam tentu  diperlukan, untuk kita memetik  hikmah di dalamnya. Membangun suasana dakwah  yang mendekatkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW kiranya akan membangun perasaan yang  rindu, rindu untuk berdekat-dekat degan Nabi dengan menjalankan sunnah-sunnahnya.

Pertama,  meneguhkan  kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW  adalah keniscayaan, sebagai konsekwensi dari keimanan. Kecintaan kepada utusan Allah ini harus berada diatas segalanya, melebihi kecintaan pada anak dan istri, kecintaan terhadap harta, kedudukannya bahkan kcintaan terahdap diri sendiri. Rasulullah bersabda; “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tua dan anaknya” (HR Bukhari)

Kedua, meneladani  perilaku dan  perbuatan mulia Rasulullah SAW dalam setiap gerak kehidupan kita.   Allah SWT berfirman “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri  teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)  Allah dan (kedatangan) hari   kiamat  dan  dia banyak  menyebut  Allah”. ( QS Al Ahzab : 21)

Ketiga, melestarikan  ajaran dan  perjuangan Rasulullah  dan juga para  Nabi yaitu misi Rahmatan Lil ‘alamin. Misi tersebut kemudian diwariskan kepada para Ulama sebagai pewaris Nabi.  Sehingga  sudah menjadi kewajiban kita untuk tetap berpegang teguh pada misi Rahmatan Lil ‘alamin tersebut demi  terwujudnya kondisi masyarakat yang  Islami, saling menghormati dan tidak merasa paling benar.

Peringatan Hari-hari Besar Islam (PHBI), dalam hal ini peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang sudah menjadi  tradisi  masyarakat  Indonesia,  semoga akan meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW  dan meninggkatkan ketaqwaan  kepada Allah SWT.  Dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW  juga syiar dakwah sebagai upaya memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia  yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945,  dengan Bhinka Tunggal Ika dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hikmah Maulid Nabi Mumahhad SAW

Hikmah Peringatan Peristiwa Maulid Nabi Muhammad SAW

Hikmah dan Fadilah Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: