Manivestasi Ramadhan Menciptakan Masyarakat Madani

Manusia berada diantara Malaikat dan Hayawani, untuk itu  Shiyaam sebagai solusinya. Shiyaam berarti imsaak yaitu menahan diri atau mengekang dan mengatur diri. Salah satu Rahasia diwajibkan Shiyaam/Puasa adalah untuk menahan diri dari bergejolaknya nafsu, yaitu:

  1. Nafsu yang ada disekitar perut, artinya makan, minum (kisah Adam dengan buah yang dilarang dimakan/khuldi)
  2. Nafsu yang berasal dari bawah perut, artinya godaan syahwat (kisah Qobil yang membunuh adiknya)
  3. Nafsu yang berada di atas perut yaitu akal, mulut, mata, telinga (sekuler, liberalisme)

Sementara tujuan diwajibkan shiyaam dengan tegas mencakup:

  1. Taqwa, ﻟﻌﻠﻜﻢﺗﺘﻗﻮڼ

Untuk mencapai Taqwa itu diperlukan:

  1. Iman yang haqiqi
  2. Islam menunaikan rukun Iman secara konsisten dan memaknai ajarannya dengan istiqomah.
  3. Ihsan, berbuat baik bagi dirinya, Lingkungan, makhluk lainnya sebagai wujud kecintaannya kepada Allah SWT.
  4. Ikhlas, dimana hakikatnya bahwa kita adalah kasirnya Allah, semua milik Allah, sedangkan kita hanya sebagai pemakai sementara.

Imam Ghazali dalam kitabnya Mukasyaful Qalbi, merinci sifat taqwa akan membentuk manusia sebagai berikut :

  • Lidahnya tidak lagi dusta, fitnah, cela dan ghibah.
  • Hati tidak lagi dengki, hasad, mendendam, benci.
  • Mata selalu terpelihara dari memandang dari yang dilarang Allah.
  • Tangan/kekuasaan,semakin terjaga dari perbuatan maksiat, malah sebaliknya selalu berada diatas untuk membantu yang kurang mampu.
  • Kaki/fasilitasnya tidak melangka ketempat maksiat, tapi semakin rajin berjalan pada jalan-Nya Allah dan Rasulullah SAW.
  • Ketaatannya menunjukkan syukur yang meningkat sejalan dengan bertambahnya nikmat Allah padanya.
  1. Mendidik manusia bersyukur,  ﻟﻌﻠﻜﻢﺗﺸﻜﺮﻮڼ

Sangat banyak sekali nikmat yang telah Allah berikan pada kita, kita tidak mampu menghitungnya, tugas kita bersyukur. Hakikat syukur itu sadar datang dari Allah dan kita pun kembali pada Allah, apa yang ada pada diri kita semua milik Allah, jadi kita wajib mengelolanya sesuai dengan aturan Allah, bila kita kelola dengan aturan Allah nikmat itu ditambahi, tapi bila kita kelola tanpa aturan Allah atau melenceng dari Allah, maka tunggulah siksanya sangat dahsyat sekali, masihkan kurang berbagi bencana yang ada?

Imam Abu Laits Assamarqandi, dalam kitab Tanbihun Ghafilin (peringatan bagi orang-orang lalai) menuliskan di akhirat nanti Allah bertanya kepada manusia, kenapa tidak dekat dengan ajaran Allah, mereka menjawab:

  1. Sibuk karena jabatannya (Kisah Daud AS).
  2. Sibuk karena hartanya (Kisah Sulaeman AS).
  3. Sibuk karena sakitnya (Kisah Ayyub AS).
  4. Sibuk karena miskinnya (Kisah Isa AS).

Rasulullah SAW pernah didatangi Jibril, menyampaikan salam dari Allah SWT dan bertanya, manakah engkau yang sukanya Muhammad menjadi Nabi yang kaya seperti Nabi Sulaeman atau menjadi Nabi yang menderita seperti Nabi Ayyub AS, Nabi menjawab, aku lebih suka kenyang sehari dan lapar sehari, jika kenyang aku bersyukur, jika lapar aku bersabar atas cobaan Allah padaku.

Saudaraku, kebendaan membawa lupa dan bisa anti Tuhan, kerohanian membawa ingat dan cinta Tuhan. Kebendaan membawa fitnah dan pengkhianatan, kerohanian membawa keikhlasan dan kesyukuran. Kebendaan membawa permusuhan dan kebencian, kerohanian membawa perdamaian dan kecintaan. Kebendaanm membawa kezhloliman dan kecurangan, kerohanian membawa keadilan dan kejujuran. Kebendaan bersifat merusak dan meruntuhkan, sedangkan  kerohanian bersifat memperbaiki dan membangaun.

Kebendaan membawa kepincangan hidup dan kemiskinan, sebaliknya kerohanian membawa kehidupan merata dan kemakmuran. Ternyata kebendaan adalah nafsu, maka Ramadhan adalah penahan dan penawarnya.

  1. Mendidik agar kita semakin cerdas,  ﻟﻌﻠﻜﻢﻳرﺷﺪﻮڼ

Rasulullah SAW pernah bertanya pada sahabat, bagaimana sikap kalian nanti jika sekiranya telah terbukanya pembendaharaan Roma Parsi, sahabat menjawab, bahwa mereka akan tetap memegang agama yang asli, Rasul tersenyum kecut, sambil bersabda bahwa pada waktu itu kamu akan berkelahi sesamamu, berpecah belah, setengah yang lain memusuhi yang lain, padahal jumlah ummat islam itu banyak sekali, tapi nasibnya seperti buih di tengah lautan, lemah kamu akan hancur laksana hancurnya kayu dimakan anai-anai.

Sahabat bertanya, apa penyebabnya ya Rasulullah, jawab Rasul, karena ketika itu hatimu telah terpaut pada dunia (kebendaan), dan kamu takut menghadapi maut/jihad dan perjuangan.

ﷲ اﻛﺒﺮ ﻮﻟﻟﻪ اﻟﺤﻣﺪ

Hari ini disebut dengan idul fitri bermakna hari bersih dan berputih hati, hari yang penuh nikmat untuk disyukuri. Lewat tahmid dan tasbih, suasana khusyu’. Haru bercampur sedih. Khusyu’ disebabkan pengakuan diri bahwa Allah lah yang Maha Besar, Maha Agung dengan kekuasaannya, manusia kerdil  bila dibanding dengan kebesaran-Nya. Tahmid karena segala puja dan puji dikembalikan kepada-Nya. Tiada yang pantas dipuji selain DzatNya. Tasbih sebagai wujud pengakuan bahwa Allah Maha Suci, semua makhluk di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya, Tahlil dan Taqdis adalah ungkapan keesaan dan kesucianNya. Allah Maha Esa dengan segala kesucian-Nya. Semua ini keluar dari lubuk hati yang dalam, bagi setiap hamba yang beriman, setelah memenuhi segala suruhan dan menjauhi apa yang dilarang.

ﷲ اﻛﺒﺮ ﻮﻟﻟﻪ اﻟﺤﻣﺪ

Perasaan harupun menyelimuti setiap mukmin sebagai wujud syukur, bahwa jati dirinya menjadi seorang muttaqin, hatinya qolbun salim dan haqqul yaqin. Hari ini para shoimin dan shoimat telah menang, hati bahagia dan perasaan pun senang, muncullah semangat baru yang dilandasi jiwa yang tenang, karena telah menang dalam menyelesaikan perjuangan dan tantangan.

Sebulan penuh kita berpuasa, tidak makan, minum, dan sesuatu yang membatalkan di siang hari, malamnya tarawih dan tadarus Al-Qurán, sebagai bukti taqarrub kepada Allah yang Maha Rahman. Perilaku tersebut dapat melahirkan watak dan jiwa yang tenang, hati yang bersih, sebagaimana janjinya disiapkan syurga yang terbentang:

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah ke pangkuan Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya, masuklah ke dalam jamaáh hamba-hambaku, dan masuklah ke dalam syurgaKu”

ﷲ اﻛﺒﺮ ﻮﻟﻟﻪ اﻟﺤﻣﺪ

Suasana sedih larut menjadi satu, sebab belum tentu Ramdhan mendatang dapat bertemu, sebab ajal bisa  datang sewaktu-waktu:

“Apabila datang batas ajal, tidak sedikitpun mundur atau dikemudiankan”.

Pantaslah hari ini kita mengucapkan selamat jalan wahai Ramadhan, engkau datang membawa nikmat, syukur dan keberkahan serta keampunan, selamat berjumpa di tahun depan, semoga Allah memperkenankan, ya Rabb pertemukanlah kami kembali tahun depan.

Aidin waláidat rahimakumullah !

Banyak mereka yang telah pergi tak kembali lagi, saudara, kerabat, jiran tetangga dan sanak famili, ada suami duluan pergi, ada pula istri yang mendahului. Ada anak kehilangan ayah, atau ayah kehilangan anak, muncullah anak-anak yatim baru. Itulah kehidupan yang lahir tetap lahir, yang meninggal silih berganti.

Musibah bencana silih berganti, cobaan tidak pernah berhenti, semuanya membuat kita wajib mengoreksi diri : “inilah peringatan Allah atau sudah bala bencana-Nya, seluruhnya meninggalkan kesan pilu dan haru“.

Aidin waláidat rahimakumullah !

Puncak dari Idul Fithri ini, kita saling bermaáf-maáfa, anak bersimpuh meminta maaf kepada kedua orang tuanya, suami – isteri, adik dengan kakak, yang muda dengan yang tua saling memaafkan, begitu juga jiran sesama jiran tetangga. Intinya hari-hari ini adalah hari silaturrahmi, rasa benci dan dendam dibuang, diganti dengan ramah-tamah, pintu rumah dibuka lebar menerima tamu untuk saling bersilaturrahmi, berjabat tangan dengan keikhlasan. Semua ini tak pandang siapa, baik yang puasa maupun yang        tak puasa, pasti hatinya merasa bahagia, malah sebaliknya yang tak berpuasa biasanya lebih sibuk dari yang berpuasa.

Hadirin ingatlah, kalau di awal Ramadhan semua syaitan dibelenggu, kini mereka merdeka dan telah bebas, segala godaan di bulan Ramadhan telah mampu kita tantang, sedang saat Idul Fithri ini masih bisakah bertahan?, terpulanglah pada nilai Iman dan Taqwa, apalagi jika kita sudah kembali ke puncak kecintaan dunia, akibatnya lupa diri, lupa syukur dan lupa ukhrawi.

Kaum Muslimin

Indonesia adalah negara yang paling banyak jumlah penduduk muslimnya, mengalahkan 5 negara Islam di Timur Tengah, namun dengan jumlah ini kita punya tantangan ke depan antara lain:

–     Miskin Iman

–     Miskin Ilmu

–     Miskin Ekonomi

–     Miskin Persatuan

ﷲ اﻛﺒﺮ ﻮﻟﻟﻪ اﻟﺤﻣﺪ

Sejarah telah membuktikan, bahwa bangsa yang tidak menjadikan agama sebagai landasan hidupnya akan hancur dan terbelakang. Turki adalah negara Islam yang pernah cemerlang selama enam abad di muka bumi sewaktu mereka menjadikan iman Isalmi sebagai landasan hidup, tetapi karena terkicuh oleh boneka sculer Mustafa Kamal  yang dengan brutal dan beringas menindas Islam, maka Turki menjadi hancur dimata kawan dan lawan.

Universitas dan Masjid Al Hamra di Andalusia Spanyol kini tinggal kerangka dan sejarah saja, sebab para intelektualnya meninggalkan ajaran Islam yang berakibat pada hilangnya pusat ilmu budaya Islam yang antara lain dibakar buku-buku pengetahuan hasil karya intelektual Islam dan dihanyutkan ke sungai bersama hilangnya nila-nilai jihad umat Islam.

Umar bin Khattab pernah menjadikan menantu seorang gadis desa yang yatim karena pendidikan iman, setelah Umar mendengar dialog antara si gadis dengan ibunya di suatu malam. Si Ibu berpesan agar anaknya membubuhkan air ke dalam tong usus yang akan mereka jual besoknya ke pasar dengan harapan hasil yang lumayan. SI gadis mengingatkan ibunya bahwa Khalifah Umar akan marah bila mengetahui hal yang demikian. Tetapi si ibu mengatakan bahwa Khalifah tidak mengetahuinya, tetapi si gadis mengatakan kepada ibunya: walaupun Khalifah tidak mengetahui, tetapi Allah mengetahuinya.

ﷲ اﻛﺒﺮ ﷲ اﻛﺒﺮ ﷲ اﻛﺒﺮ ﻮﻟﻟﻪ اﻟﺤﻣﺪ

Saudaraku,

Meningkatkan sumber daya insani adalah upaya mengejar ketinggalan dan keterbelakangan melakukan peningkatan iman, ilmu dan keterampilan. Ilmu tanpa iman akan membuat orang menjadi iblis yang sombong dan angkuh bahkan perusak manusia sepanjang zaman.

Iman tanpa ilmu akan membuat seseorang bagaikan malaikat monoton yang membosankan. Ilmu dan imanlah yang menyebabkan Adam diangkat menjadi Khalifah bumi, karena menyisihkan saingannya yang ambisi dari golongan iblis dan malaikat.

Seorang yang beriman, berilmu dan terampil akan menjadi manusia yang terhormat dan disegani, bagaikan masyarakat lebah mampu menghasilkan madu untuk obat dan minuman. Mereka punya senjata tapi tidak pernah mengganggu, mereka dapat dijadikan sahabat yang saling membantu, mereka tidak pernah merusak walau ranting dan dahan kayu. Lebah sangat terampil, lebah sangat pembersih, lebah sangat tertib dan tahu diri, lebah juga menghormati pemimpin dan yang dipimpin. (Q.S An-Nahl:68).

ﷲ اﻛﺒﺮ ﻮﻟﻟﻪ اﻟﺤﻣﺪ

Kaum Muslimin Yth.

Untuk menghadapi berbagai tantangan dalam Menciptakan Masyarakat Madani ialah:

  1. Kemenangan Ramadhan semangat Idul Fithri kita jadikan titik tolak untuk bersatu dalam perbedaan antara ulama, penguasa, orang kaya dan fuqara. Sebab nabi pernah bersabda :

        Artinya: “Tegaknya dunia karena empat perkara: 1. dengan ilmu ulama, 2. dengan keadilan penguasa, 3. dengan kemurahan di kaya, 4. dengan doa fuqara”.

  1. Umat Islam harus memberikan anak-anaknya pendidikan iman dan  keterampilan, memberi contoh-contoh teladan yang baik dan benar, para pejabat dan penguasa harus berani mempergunakan kesempatan untuk menampilkan wajah dan akhlak Islam, membela kepentingan umat, para ulama harus berani menyampaikan yang benar itu benar dan yang bathil itu salah. Aparat keamanan harus berani menindak kejahilan dengan tegas dengan niat jihad agar diimbali Allah dengan syurga.
  2. Orang kaya harus sadar bahwa harta yang telah cukup nisabnya ada hak fakir miskin sebagai zakat yabg harus dia serahkan. Cukup banyak anak terlantar yang putus sekolah, anak yatim yang tidak mampu tapi punya kecerdasan dan cita-cita mulia mengharapkan uluran tangan para dermawan yang beriman.

Tidak semua tetesan air mata sebagai tanda kecewa, tapi banyak juga sebagai tanda syukur dan doa. Syukur dan doa diiringi air mata, selalu mendapat perintah Allah untuk dikabulkan-Nya. Kita tempa generasi muda kita sebagai generasi yang berani karena iman, mampu berperan dan tampil ke depan. Kita hayati motivasi Allah dalam firman-Nya pada surat Ali Imran ayat 139:

        Artinya: “Janganlah kalian bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling tinggi (derajat) jika kamu orang beriman.”

  1. Ketahuilah saudaraku, sumber kehancuran umat itu ada 5 antara lain:

a. Berkhianat pada janji akan kehilangan cahaya hidup.

b. Melanggar hukum Allah akan datang kekeringan.

  1. Perzinahan merajalela muncul penyakit berbahaya.

d. Mengurangi takaran dan timbangan akan menghilangkan keberkahan.

e. Enggan berzakat, Allah akan mencabut nikmat dari sisi-sisi yang tidak              terduga.

5.    Menanamkan dan mendisiplinkan agama dalam keluarga sebagai dasar penanaman Aqidah tauhid, percayalah hanya dengan agamalah hidup ini mencapai kebahagiaan.

6.    Kepada remaja dan pemuda Islam, jagalah pergaulan dan bergaullah sesama umat tauhid, Insya Allah akan jadilah kamu umat yang bertauhid.

7.    Makanan dan sumber mencari penghidupan, marilah kita upayakan supaya       benar-benar halal, bukan dari sumber yang subhat, apalagi yang jelas haram. Sebab jika kamu makan yang haram maka akan lapuklah imannya, dan matilah hatinya dari mengingat Allah.

8.   Kita biasakan mendidik diri kita dengan sikap dan ibadah-ibadah yang islami, bericara dengan perkataan-perkataan iman, berjalan dengan langkah-langkah Islam dan berbudaya dengan budaya ihsan, kita rindukan ajaran-ajaran Rasul.

9.    Hidupkan semangat jihad dan suka berkorban untuk membela agama Allah, sehingga:

*     Ada yang membela dengan jabatannya.

*     Ada yang membela dengan hartanya.

*     Ada yang membela dengan ilmunya.

*     Ada yang membela dengan tenaganya.

10.  Hilangkan pola materialis dan sikap hidup konsumtif. Marilah kita robah menjadi produktif yang bermanfaat bagi banyak orang.  “Wahai generasi muslim pelanjut umat tauhid, obatilah jiwamu dengan jamu iman, berbusanalah dengan busana ibadah, berparfumlah dengnan akhlakul karimah, berhiaslah dengan ilmu dan malu, melangkahlah dengan semangat tekad hanya karena mencari ridho Allah.”

Khotbah di Masjid Jami’ Baitul Akbar
Oleh: Drs. H. Masyhuril Khamis, SH
(Anggota MUI Pusat Bidang Pemberdayaan Umat)

——– oo0oo ——–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: